Sabtu, 23 Februari 2013

SERTIFIKASI PRODUK



Sertifikasi produk ditujukan untuk memberikan jaminan kepastian mutu produk kepada konsumen sesuai persyaratan dan spesifikasi teknik yang berlaku. Lembaga sertifikasi produk atau B4T-LSPro telah mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada tahun 2005 dengan register No. LSPr-013-IDN, sesuai aturan persyaratan standar pedoman BSN 4001-2000 atau ISO/IEC Guide 65 dan pedoman KAN 402-2001 atau ISO. IEC Guide 27. Pelaksanaan penelitian kesesuaian produk mengacu kepada standar nasional maupun internasional yang berlaku diantaranya : SNI, ASME Code, ANSI, ASTM, API, JIS, British Standar, dan Standar lain yang berlaku. Lingkup produk yang dapat disertifikasi oleh B4T-LSPro diantaranya : Sertifikasi kesesuaian :
·      Bejana Tekanan
·      Ketel Uap
·      Alat Penutup Kalor
·      Tingkat penimbun
·      Perpipaan
Sertifikasi Produk SNI :
·      Lampu Pijar
·      Semen Portland Pozolan
·      Semen Protland
·      Semen Protlan campuran
·      Baterai Kering
·      Ban Mobil Penumpang
·      Ban Truk dan Bus
·      Ban Sepeda Motor
·      Baja Tulangan Beton
·       PERSYARATAN SERTIFIKASI PRODUK
·       PERMOHONAN SERTIFIKASI
Permohonan ditujukan langsung ke Manajer B4T-LSPr melalui surat atau facsimile atau email dengan alamat sebagai berikut : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Jln. Sangkuriang No. 14 Bandung 40135 JAWA BARAT – INDONESIA Telp. 62-22-2504088, 2510682, 2504828 Fax. 60-22-2502027 email : b4t@bdg.centrin.net.id Permohon diharuskan mengisi Formulir Permohonan Sertifikasi Produk (F-P-16-1) yang telah disediakan.



·       PENILAIAN SISTEM MANAJEMEN MUTU
Penilaian sistem manajemen mutu diharuskan untuk pemohon yang mengajukan permohonan sertifikasi produk akan tetapi pemohon tersebut belum menerapkan sistem manajemen mutu menurut SNI 19-9000.
·       PENILAIAN LABORATORIUM
Penilaian laboratory uji diharuskan, apabila pemohon memiliki laboratorium uji dan melaksanakan pengujian sendiri dan laboratorium uji tersebut belum memenuhi persyaratan SNI 19-17025.
·       PENGAMBILAN CONTOH UJI
Pengambilan contoh uji dilaksanakan oleh personil B4T-LSPr. Contoh uji diambil dari alur produksi dan dari gudang atau dari pasar dengan jumlah sesuai dengan yang disyaratkan oleh B4T-LSPr atau mengikuti aturan lain yang relevan. Sejumlah contoh uji yang diambil harus mewakili dan berlaku untuk satu tipe produk yang disertifikasi atau lebih tergantung pada proses pembuatan dan fungsi dari produk tersebut dan hal ini akan ditetapkan kemudian oleh B4T-LSPr. Contoh Uji yang diambil hanya mewakili dan berlaku untuk satu merek dagang produk yang disertifikasi.
·       PENGUJIAN CONTOH UJI
Pengujian dilaksanakan oleh lembaga/lab. uji eksternal atas nama B4T-LSPr. Pemohon dapat melaksanakan pengujian di lab. uji milik pemohon atau di lab. uji eksternal yang ditunjuk oleh pemohon, asalkan lab. uji tersebut memenuhi persyaratan SNI 19-17025 seperti yang ditetapkan pada butir 2 diatas dan telah memenuhi perjanjian kerjasama dengan B4T-LSPr, dengan demikian pemohon cukup hanya menyerahkan ke B4T-LSPr laporan uji untuk dievaluasi. Laporan uji harus menunjukkan laporan yang terakhir dan terbaru. Pengujian harus mengikuti persyaratan uji yang telah ditetapkan oleh standar acuan atau aturan lain yang relevan.
·       Evaluasi
Evaluasi dilakukan terhadap seluruh rangkaian kegiatan sertifikasi dengan memperhatikan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan.
·       FOLLOW - UP
Apabila hasil evaluasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian terhadap persyaratan yang ditetapkan, dilakukan penilaian ulang sesuai dengan ketidaksesuaian yang timbul. Penilaian ulang untuk produk sama seperti yang dilaksanakan pada penilaian semula sedangkan untuk sistem mutu atau laboratorium uji hanya memverifikasi ketidaksesuaian yang timbul.
·       KEPUTUSAN SERTIFIKASI
Manajemen B4T-LSPr akan memutuskan sertifikasi setelah semua tahapan prosedur sertifikasi dilaksanakan dan dilengkapi dengan laporannya. Apabila pada laporan evaluasi menunjukkan tidak memenuhi aturan yang ditetapkan oleh B4T-LSPr atau pada laporan evaluasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian terhadap persyaratan standar, diputuskan bahwa untuk produk yang dimaksud dinyatakan tidak lulus sertifikasi.
·       BUKTI SERTIFIKASI
Bukti kesesuaian yang diterbitkan oleh B4T-LSPr adalah ”Sertifikasi Penggunaan Tanda SNI”
·       SURVAILEN
Survailen dilaksanakan minimal sekali dalam setahun sejak tanggal berlakunya sertifikat. Survailen meliputi : Penilaian sistem manajemen mutu dan laboratorium uji, pengambilan contoh uji, pengujian dan evaluasi. Contoh uji diambil dari pabrik dan pasar dengan jumlah sesuai dengan yang disyaratkan oleh B4T-LSPr atau mengikuti aturan lain yang relevan.
·       SERTIFIKASI ULANG
Sertifikasi ulang dilaksanakan setiap 3 (tiga) tahun sekali. Pelaksanaan dan persyaratan sertifikasi ulang sama seperti dengan pelaksanaan sertifikasi awal.
·       DOWNLOAD FORMULIR
Formulir Permohonan Sertifikasi Produk ( FP-16-1d.doc ) LIHAT ALUR SERTIFIKASI PRODUK SKEMA SERTIFIKASI :
·      Baja Tulangan Beton
·      Ban Mobil Penumpang
·      Ban Sepeda Motor
·      Ban Truk Ringan
·      Ban Truk dan Bus
·      Batere Kering
·      Lampu Pijar
·      Pipa Baja Las Sprial
·      Semen Masonry
·      Semen Portland Putih
·      Semen Portland
SERTIFIKASI KESESUAIAN
1.   Penilaian Sistem Perusahaan - Verifikasi Desain
2.   Review Wps/Pqr Dan Welder
3.   Review Prosedur Nde
4.   Cek Material
5.   Visual
6.   Cek Dimensional
7.   Review Nde Record
8.   Witness Uji Hidrostatik
9.   Penerbitan Sertifikat Kesesuaian
SERTIFIKASI PRODUK SNI
1.        Permohonan Sertifikasi
2.        Penilaian Sistem Manajemen Mutu
3.        Penilaian Lab.Uji
4.        Pengambilan Contoh Uji
5.        Pengujian Contoh Uji
6.        Evaluasi
7.        Follow-Up
8.        Keputusan Sertifikasi
9.        Penerbitan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Sni
10.    Survailen (Tinjauan Berkala) - Setiap 6 Bulan
11.    Sertifikasi Ulang - Setiap 3 Tahun
Jenis Produk yang termasuk lingkup sertifikasi :
SERTIFIKASI KESESUAIAN
·           Bejana Tekan ( Pressure Vessel )
·           Ketel Uap (Boiler)
·           Alat Penukar Kalor ( Heat Exchanger )
·           Tangki Penimbun ( Storage Tank )
·           Perpipaan ( Piping )
SERTIFIKASI PRODUK SNI
·           Pipa baja lapis seng
·           Pipa baja karbon untuk mesin
·           Pipa baja karbon untuk umum
·           Mutu dan cara uji pipa baja tanpa kampuh
·           Pipa baja untuk saluran minyak dan gas
·           Pipa tanam dari besi tuang kelabu
·           Pipa ABS (acrylonitryl butadiene styrene) bertekanan
·       Pipa union (conduit)
·       Katup sumbat kuningan berulir 0,5 Mpa
·       Ketel uap dan bejana tekan,spesifikasi bahan tube baja karbon tanpa kampuh untuk  ketel uap dengan tekanan tinggi
·      Ketel uap dan bejana tekan, spesifikasi
·      Lampu Pijar
·      Starter Pijar Lampu Flouresen
·      Pipa Gelas untuk lampu tabung (TL)
·      Lampu Flouresen bentuk tabung
·      Balast lampu flouresen arus bolak-balik
·      Handel kopling dan handel rem sepeda motor dari panduan alumunium
·      Gasket abses pampatan untuk kendaraan bermotor roda dua
·      Gasket lembaran metal abses untuk kendaraan bermotor roda dua
·      Pelek sepeda
·      Pelat andas rel kereta api dari baja
·      Karung tenun plastik poliolefin
·      Kaleng baja lembaran lapis timah bentuk silinder untuk makanan dan minuman
·      Penutup drum dari baja
·      Dinamit untuk peledakan di tempat terbuka
·      Dinamit seismik
·      Ingot baja karbon
·      Billet mini baja karbon
·      Baja untuk keperluan rekayasa umum
·      Bata tahan api magnesit krom
·      Semua ban kendaraan berjalan
·      Ubin semen polos
·      Semua semen
·      Semua pupuk
·      Cat dan dempul
·      Baja tulangan beton
·      Baja lembaran lapis seng
·      Batang kawat baja karbon rendah
·      Baja tulangan beton hasil canai ulang (rerolling)
·      Elektroda las terbungkus baja karbon rendah
·      Baja siku sama kaki bertepi bulat canai panas
·      Kawat baja karbon rendah
·      Baja siku sama kaki bertepi bulat canai panas hasil rerolling
·      Baja lembaran lapis seng yang diberi lapisan cat berwarna
·      Baja kanal bertepi bulat canai panas
·      Paku
Abstraksi : Standar ini menetapkan ruang lingkup, acuan normatif, istilah dan definisi, jenis dan penggunaan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji, pengemasan, syarat penandaan, penyimpanan dan transportasi dari semen portland, yaitu semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling terak semen portland terutama yang terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain. Syarat mutu ditetapkan adalah syarat kimia dan fisika.
ICS                                           : 1. 91.100.10 Semen. Gips. Kapur. Mortar
SNI diberlakukan wajib oleh   : KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN (35/M-IND/PER/4/2007)
Penetapan                    : 31/KEP/BSN/12/2004 Tanggal Penetapan : 06-12-2004 [dd-mm-yyyy] SNI Ini Merevisi                      :  1. SNI 15-2049-1994 Semen portland
Menjadi Acuan Normatif untuk SNI :
 1.  [berlaku]SNI 15-3500-2004   Semen portland campur
 2.  [berlaku]SNI 15-3758-2004   Semen masonry
 3.  [berlaku]SNI 15-7064-2004   Semen portland komposit
 4.  [berlaku]SNI 15-0129-2004   Semen portland putih
 5.  [berlaku]SNI 15-0302-2004   Semen portland pozolan
 6.  [rancangan]7656 2010   Tata cara pemilihan campuran untuk beton normal, beton berat dan beton massa
Acuan Normatif non SNI :
 1 .  ASTM Standards C 109/109M-01 Test methods for compressive strength of Hydraulic   Cements mortars (using 2-in. or 50-mm Cube Specimens)
2 .  ASTM Standards C 114-00, Standard test methods for chemical analysis of hydraulic cement
3 .  ASTM Standards C 115-96a, Standard test method for fineness of portland cement by turbidimeter
 4 .  ASTM Standards C 151 : Test Method for Autoclave Expansion of Portland Cement
 5 .  ASTM Standards C 183 - 97, Standard practice for sampling and the amount of testing of hydraulic cement
6 .  ASTM Standards C 185-01, Standard test method for air content of hydraulic cement mortar
7 .  ASTM Standards C 186-98, Standard test method for heat of hydration of hydraulic cement
 8 .  ASTM Standards C 187-98, Standard test method for normal consistency of hydraulic cement
 9 .  ASTM Standards C 191-01a, Standard test method for time of setting of hydraulic cement by vicat needle
10 .  ASTM Standards C 204-00, Standard test method for fineness of hydraulic cement by air permeability apparatus
11 .  ASTM Standards C 266-99, Standard test method for time of setting of hydraulic cement paste by gillmore needles
 12 .  ASTM Standards C 430-96, Standard test method for fineness of hydraulic cement by the 45-um ( No 325) Sieve
 13 .  ASTM Standards C 451-99, Standard test method for early stiffening of hydraulic cement (paste method)
14 .  ASTM Standards C 670-03, Standard practice for preparing precision and bias statements for test methods for construction materials
 15 .  ASTM Standards C 778-00 Specification for Standard Sand
Bibliografi :  
 1. ASTM Standards C 150-02a, Standard specification for portland cement
 2. ASTM Standards C 150-02a, Standard specification for portland cement
 3. BS 12-1996, Specification for portland cement
 4. BS 12-1996, Specification for portland cement
SNI HS :  1. 2523.29.90.00 -Semen portland : --Lain-lain :\ ---Lain-lain
LPK :
 1. LSPr-033-IDN - LSPro Baristand Aceh (10 SNI lainnya)
 2. LP 007 IDN - Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (47 SNI lainnya)
 3. LP 025 IDN - Balai Pengujian Mutu Barang Jakarta (118 SNI lainnya)
 4. LP 145 IDN - Laboratorium Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan (1 SNI lainnya)
 5. LP 151 IDN - Laboratorium Pengujian Bahan, PT. Semen Gresik (Persero) Tbk (1 SNI lainnya)
 6. LP 280 IDN - Laboratorium Semen Padang - P Semen Padang (2 SNI lainnya)
 7. LP 287 IDN - Laboratorium Quality Assurance and Research Division, PT Indocement Tunggal      Prakarsa, Tbk. (1 SNI lainnya)
 8. LP 328 IDN - Laboratorium Quality Control Departement Plant 9/10 -PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk (1 SNI lainnya)
 9. LP 360 IDN - Quality Control Departemen, Tarjun - Kalimantan Selatan. P Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (1 SNI lainnya)
 10. LP-498-IDN - Laboratorium Litbang dan Operasional PT. Semen Tonasa (3 SNI lainnya)
 11. LSPr-001-IDN - Pusat Pengujian Mutu Barang (39 SNI lainnya)
 12. LSPr-012-IDN - PT. TUV NORD Indonesia (76 SNI lainnya)
 13. LSPr-007-IDN - BIPA Palembang (14 SNI lainnya)
 14. LP-462-IDN - Biro Penelitian Bahan Baku Proses, Produk dan Jaminan Mutu, PT. Semen Baturaja (1 SNI lainnya)

Sifat Mekanik Bahan



Dalam pemilihan bahan untuk produk , perancang harus memperhatikan sifat-sifat logam seperti kekuatan (strength), keliatan (ductility), kekerasan (hardness) atau kekuatan luluh (fatique strength).
Sifat mekanik didefinisikan sebagai ukuran kemampuan bahan untuk membawa atau menahan gaya atau tegangan. Pada saat menahan beban, atom-atom atau struktur molekul berada dalam kesetimbangan. Gaya ikatan pada struktur menahan setiap usaha untuk mengganggu kesetimbangan ini, misalnya gaya luar atau beban.
a. Bahan liat (ductile) dan bahan rapuh (brittle)
Bahan-bahan logam biasanya diklasifikasikan sebagai bahan liat (ductile) atau bahan rapuh (brittle). Bahan liat mempunyai gaya regangan ( tensile strain ) relatif besar sampai dengan titik kerusakan (misal baja atau aluminium) sedangkan bahan rapuh mempunyai gaya regangan yang relatif kecil sampai dengan titik yang sama. Besi cor dan beton merupakan contoh bahan rapuh.
b. Modulus kekerasan (modulus of toughness)
Kerja yang dilakukan suatu unit volume bahan, seperti misalnya gaya tarikan yang dinaikkan dari nol sampai suatu nilai yang menyebabkan keruntuhan didefinisikan sebagai modulus kekerasan. Ini dapat dihitung sebagai luasan dibawah kurva tegangan-regangan dari origin sampai titik keruntuhan. Kekerasan bahan adalah kemampuan untuk menyerap energi pada selang plastis dari bahan
c. Batas luluh bahan
Sebenarnya sifat elastis masih terjadi sedikit di atas batas proporsional, namun hubungan antara tegangan dan regangan tidak linear dan pada umumnya batas daerah elastis dan daerah plastis
sulit untuk ditentukan. Karena itu, maka didefinisikan kekuatan luluh (yield point). Kekuatan luluh adalah harga tegangan terendah dimana material mulai mengalami deformasi plastis. Pada gambar tegangan-regangan, memperlihatkan titik luluh atas dan titik luluh bawah yang ditandai oleh pengurangan beban mendadak, diikuti dengan perpanjangan yang meningkat dan peningkatan beban yang mendadak lagi. Gejala ini disebut meluluhnya bahan, yang ditandai dengan perubahan bentuk yang plastis dan naik turunnya beban.
d. Klasifikasi Bahan
Sampai saat ini, diskusi kita adalah didasarkan pada asumsi bahwa bahan mempunyai dua karakteristik, yaitu:
·                     Homogen, yaitu mempunyai sifat elastis yang sama pada keseluruhan titik pada bahan.
·                     Isotropis, yaitu mempunyai sifat elastis yang sama pada semua arah pada setiap titik dalam bahan.
Dalam uji tarik plat plat yang digunakan adalah plat dengan potongan searah serat / filamen.
e. Deformasi
Deformasi terjadi bila bahan mengalami gaya. Selama deformasi, bahan menyerap energi sebagai akibat adanya gaya yang bekerja sepanjang deformasi. Sekecil apapun gaya yang bekerja, maka benda akan mengalami perubahan bentuk dan ukuran.
Perubahan ukuran secara fisik ini disebut deformasi. Deformasi ada dua macam yaitu deformasi elastis dan deformasi plastis. Yang dimaksud deformasi elastis adalah deformasi yang terjadi akibat adanya beban yang jika beban ditiadakan, maka material akan kembali keukuran semula. Sedangkan deformasi plastis adalah deformasi yang bersifat permanen jika bebannya dilepas.
Penambahan beban pada bahan yang telah mengalami kekuatan tertinggi tidak dapat dilakukan, karena pada kondisi ini bahan telah mengalami deformasi total. Jika beban tetap diberikanmaka regangan akan bertambah dimana material seakan menguat yang disebut dengan penguatan regangan (strain hardening) yang selanjutnya benda akan mengalami putus pada kekuatan patah.
Sebuah plat yang diberi beban secara terus-menerus, secara bertahap akan mengalami deformasi. Pada awal pembebanan akan terjadi deformsi elastis sampai pada kondisi tertentu bahan akan
mengalami deformasi plastis. Pada awal pembebanan bahan di bawah kekuatan luluh bahan akan kembali kebentuk semula, hal ini dikarenakan sifat elastis bahan. Peningkatan beban melebihi
kekuatan luluh (yield point) yang dimiliki plat akan mengakibatkan aliran deformasi plastis sehingga plat tidak akan kembali ke bentuk semula.
Kekuatan luluh adalah harga tegangan terendah dimana material mulai mengalami deformasi plastis. Titik σy atas adalah titik luluh atas dan titik σy bawah adalah titik luluh bawah yang ditandai oleh pengurangan beban yang mendadak, diikuti dengan perpanjangan yang meningkat dan peningkatan beban yang mendadak lagi. Gejala ini disebut meluluhnya bahan, yang ditandai
dengan perubahan bentuk yang plastik dan naik-turunnya beban
Pada titik mulur hubungan tegangan-regangan sudah tidak linier, namun sifat elastis masih terjadi sedikit diatas batas proporsional. Pada umumnya batas daerah elastis dan daerah plastis sulit untuk ditentukan. Karena itu, maka didefinisikan kekuatan luluh (yield strength). Batas proporsional merupakan tegangan tertinggi dimana material masih mengalami deformasi elastis dan belum mengalami deformasi plastis.
Titik mulur atau yang biasa disebut dengan titik luluh (yield point) adalah titik transisi dari elastis ke daerah plastis. Pada titik mulur ini material mulai mengalami deformasi plastis yang bersifat permanen jika beban mulai dilepas.
2.23. Elastisitas dan Plastisitas Plat
Dalam pemilihan material seperti lembaran plat untuk pembuatan komponen yang harus diperhatikan adalah sifat-sifat material antar lain; kekuatan (strength), keliatan (ductility), kekerasan dan kekuatan lelah. Sifat mekanik material untuk membawa atau menahan gaya atau tegangan. Pada saat menahan beban, struktur molekul berada dalam keseimbangan. Gaya luar pada proses penarikan akan mengakibatkan material mengalami tegangan.
a. Elastisitas
Sebuah benda terdiri dari partikel – partikel kecil atau molekul – molekul. Diantara molekul – molekul ini bekerjalah gaya – gaya yang biasa disebut gaya molekuler. Gaya – gaya molekuler ini memberi perlawanan terhadap gaya – gaya luar yang berusaha mengubah bentuk benda itu sampai terjadi suatu keseimbangan antara gaya – gaya luar dan gaya – gaya dalam. Selanjutnya benda itu dikatakan berada dalam keadaan regang ( state of strain ).
Elastisitas adalah sifat yang dimiliki oleh suatu material yang menyebabkan benda / material akan kembali ke bentuk seperti semula setelah diberi beban dan mengalami perubahan bentuk
kemudian beban dihilangkan. Sebuah benda yang kembali sepenuhnya kepada bentuk semula kita namakan elastis sempurna, sedangkan apabila tidak sepenuhnya kembali kepada bentuk semula kita namakan elastis parsial (sebagian). ( S. Timoshenko dan Goodier. 1986 ).
Elastisitas bahan sangat ditentukan oleh modulus elastisitas, modulus elastisitas suatu bahan didapat dari hasil bagi antara tegangan dan regangan
b. Plastisitas
Plastisitas adalah sifat yang dimiliki oleh suatu material, yaitu ketika beban yang diberikan kepada suatu benda / material hingga mengalami perubahan bentuk kemudian dihilangkan lalu benda tidak bisa kembali sepenuhnya ke bentuk semula.
Peningkatan pembebanan yang melebihi kekuatan luluh (yield strength) yang dimiliki plat mengakibatkan aliran deformasi permanen yang disebut plastisitas. Menurut Mondelson (1983) teori plastis terbagi menjadi dua kategori:
1). Teori fisik
Teori fisik menjelaskan aliran bagaimana logam akan menjadi plastis. Meninjau terhadap kandungan mikroskopik material seperti halnya pengerasan kristal atom dan dislokasi butir kandungan material saat mengalami tahap plastisitas.
2). Teori matematik
Teori matematik berdasarkan pada fenomena logis alami dari material dan kemudian dideterminasikan ke dalam rumus yang digunakan untuk acuan perhitungan pengujian material tanpa mengabaikan sifat dasar material.
a. Tegangan ( Stress )
Tegangan adalah tahanan material terhadap gaya atau beban. Tegangan diukur dalam bentuk gaya per luas.
Tegangan normal adalah tegangan yang tegak lurus terhadap permukaan dimana tegangan tersebut diterapkan. Tegangan normal berupa tarikan atau tekanan. Satuan SI untuk tegangan normal adalah Newton per meter kuadrat (N/m2) atau Pascal (Pa). Tegangan dihasilkan dari gaya seperti : tarikan, tekanan atau geseran yang menarik, mendorong, melintir, memotong atau mengubah bentuk potongan bahan dengan berbagai cara. Perubahan bentuk yang terjadi sering
sangat kecil dan hanya testing machine adalah contoh peralatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan bentuk yang kecil dari bahan yang dikenai beban. Cara lain untuk mendefinisikan tegangan adalah dengan menyatakan bahwa tegangan adalah jumlah gaya dibagi luas permukaan dimana gaya tersebut bereaksi.
Tegangan normal dianggap positif jika menimbulkan suatu tarikan (tensile) dan dianggap negatif jika menimbulkan penekanan (compression).
Tegangan normal (σ) adalah tegangan yang bekerja tegak lurus terhadap bidang luas (Timoshenko dan Goodier,1986) :
Tegangan adalah besaran pengukuran intensitas gaya atau reaksi dalam yang timbul persatuan luas. Tegangan menurut Marciniak dkk. (2002) dibedakan menjadi dua yaitu, Engineering stress dan true stress. Engineering stress dapat dirumuskan sebagai berikut :
A0 = Luas permukaan awal (mm2) Sedangkan True stress adalah tegangan hasil pengukuran intensitas gaya reaksi yang dibagi dengan luas permukaan sebenarnya (actual). True stress dapat dihitung.
b. Regangan ( Strain )
Regangan didefinisikan sebagai perubahan ukuran atau bentuk material dari panjang awal sebagai hasil dari gaya yang menarik atau yang menekan pada material. Apabila suatu spesimen struktur material diikat pada jepitan mesin penguji dan beban serta pertambahan panjang spesifikasi diamati serempak, maka dapat digambarkan pengamatan pada grafik dimana ordinat menyatakan beban dan absis menyatakan pertambahan panjang.
Batasan sifat elastis perbandingan regangan dan tegangan akan linier akan berakhir sampai pada titik mulur.
Hubungan tegangan dan regangan tidak lagi linier pada saat material mencapai pada batasan fase sifat plastis. Menurut Marciniak dkk. (2002) regangan dibedakan menjadi dua, yaitu : engineering strain dan true strain.
Engineering strain adalah regangan yang dihitung menurut dimensi benda aslinya (panjang awal). Sehingga untuk mengetahui besarnya regangan yang terjadi adalah dengan membagi perpanjangan dengan panjang semula.
c. Kurva Tegangan Regangan
Menurut Marciniak dkk. (2002) ada beberapa hal yang harus diketahui dalam hal Tegangan Regangan pada mekanis bahan yaitu :
1. Kurva True stress and True strain
Proses pengepresan (stamping) atau sheet metal forming menggunakan sifat plastis (plasticity) dari material logam yang akan menyebabkan bahan pelat menjadi bentuk baru apabila diregang melebihi batas elastis (elasticity) sehingga deformasinya permanen.
Hal yang mendasar dari proses pengepresan adalah memanfaatkan sifat plastisitas dari material saat pelat diberi gaya. Dengan memanfaatkan tahap plastisitas tersebut maka proses pembentukan dapat dicapai, dimana bentuk pela t akan sesuai dengan bentuk cetakan yang diinginkan (Rao, 1987). Konsep initerdapat pada kurva tegangan-regangan sebenarnya (true strain-stress curve). Daerahplastis terdapat pada garis kurva diatas titik mulur batas tegangan dimana material tidak akan kembali ke bentuk semula apabila beban dilepas, dan akan mengalami deformasi tetap yang disebut permanent set
· Temperatur
Faktor temperatur sangat mempengaruhi bentuk kurva Tegangan - Regangan. Secara umum
hubungan dari temperatur terhadap material biasanya semakin meningkatnya temperatur material akan meningkatkan keuletan (ductility) dan ketangguhan (toughness) material, menurunkan
modulus elastisitas, titik luluh, dan UTS-nya.
· Strain rate
Strain rate adalah laju deformasi benda ketika mendapat beban. Dalam proses manufaktur, benda
kerja akan meregang terdeformasi sesuai dengan kecepatan beban yang diterimanya.
Strain rate merupakan fungsi perubahan geometri benda / spesimennya. Efek dari strain rate pada flow stress adalah semakin tinggi strain rate, makin tinggi flow stress. Efek ini adalah kebalikan dari efek temperature pada flow stress.

Definisi Plastic Injection Molding



Plastic Injection Molding ( PIM ) merupakan metode proses produksi yang cenderung menjadi pilihan untuk digunakan dalam menghasilkan atau memproses komponen-komponen yang kecil dan berbentuk rumit, dimana biayanya lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan metode-metode lain yang biasa digunakan (Boses, 1995). Gambar 2.1 memperlihatkan kemampuan pemrosesan dan tingkat ketelitian komponen yang dihasilkan dengan PIM dibandingkan dengan proses-proses lain. Proses ini mampu menghasilkan bentuk rumit dalam jumlah besar maupun kecil pada hampir semua jenis bahan termasuk logam, keramik, campuran logam dan plastik.
Salah satu keistimewaan proses PIM ialah kemampuannya dalam menggabungkan dan menggunakan kelebihan-kelebihan teknologi seperti kemampuan pembentukan bahan plastik, ketepatan dalam proses pencetakan dan kebebasan memilih bahan. Hal ini digambarkan pada gambar 2.2. Komponen yang dihasilkan dengan teknologi PIM kini banyak digunakan dalam industri otomotif, kimia, penerbangan, listrik, komputer, kedokteran dan peralatan militer.
                               
                      Keistimewaan Proses Plastic Injection Molding ( PIM )
Secara umum proses PIM dibagi menjadi beberapa tahap seperti pada gambar diatas.  Proses ini dimulai dengan mencampur serbuk dan bahan pengikat. Kemudian campuran ini dibutirkan lalu disuntik ke dalam cetakan ( mould) sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Komponen yang dihasilkan dari proses injeksi disebut Green Compact. Bahan pengikat yang digunakan kemudian dipisahkan melalui proses yang disebut sebagai proses pemisahan (debinding). Komponen yang telah dibuang bahan pengikatnya disebut Brown Compact, yang selanjutnya dipanaskan pada suhu di bawah titik didih bahan utama plastik yang digunakan. Proses ini disebut proses pemanasan (sintering). Komponen hasil pemanasan lalu didinginkan.
 Tahapan Proses Plastic Injection Molding ( PIM ) (German 1990 )
Masalah biaya sering menjadi kendala dalam usaha pengembangan teknologi manufaktur. Hal ini juga terjadi pada proses PIM. Biaya bahan mentah yang terdiri dari serbuk plastik dan bahan pengikat diperkirakan hampir 25,36 % dari biaya keseluruhan. Sedangkan bahan pengikat diperkirakan 40% dari biaya bahan mentah tersebut dan ini relatif tinggi, sehingga dianggap penting untuk menemukan pengganti bahan pengikat tersebut dengan biaya yang lebih ekonomis dan mempunyai sifat-sifat yang diinginkan.
Pengenalan Bahan Baku
Plastik adalah bahan sintetis yang dapat diubah bentuk dan dapat mempertahankan perubahan bentuk serta dikeraskan tergantung pada strukturnya.
Pada dasarnya plastik secara umum digolongkan ke dalam 3 (tiga) macam dilihat dari temperaturnya  yakni :
1. Bahan Thermoplastik (Thermoplastic) yaitu akan melunak bila dipanaskan dan setelah didinginkan akan dapat mengeras. Contoh bahan thermoplastik adalah : Polistiren, Polietilen, Polipropilen, Nilon, Plastik fleksiglass dan Teflon.
2. Bahan Thermoseting (Thermosetting) yaitu plastik dalam bentuk cair dan dapat dicetak sesuai yang diinginkan serta akan mengeras jika dipanaskan dan tetap tidak dapat dibuat menjadi plastik lagi. Contoh bahan thermosetting adalah : Bakelit, Silikon dan Epoksi.
3. Bahan Elastis (Elastomer) yaitu bahan yang sangat elastis. Contoh bahan elastis adalah : karet sintetis.
Berikut pembagian polymer secara umum :
( sumber : Pengetahuan Dasar Plastik, penerbit : PT. Tri Polyta Indonesia, tbk )
Polimer memiliki beberapa karakteristik untuk menggambarkan sifat fisik dan sifat kimianya. Sifat-sifat tersebut akan mempengaruhi aplikasi penggunaan polimer tersebut.
 Karakteristik polimer antara lain :
1. Crystallinity (kristalinitas)
Struktur polimer yang tidak tersusun secara teratur umumnya memiliki warna transparan. Karakteristik ini membuat polimer dapat digunakan untuk berbagai aplikasi seperti pembungkus makanan, kontak lensa dan sebagainya. Semakin tinggi derajat kristalisasinya, semakin sedikit cahaya yang dapat melewati polimer tersebut.
2. Thermosetting dan Thermoplastic (Daya tahan terhadap panas)
Berdasarkan ketahanannya terhadap panas, polimer dibedakan menjadi polimer thermoplastic dan thermosetting. Polimer thermoplastic dapat melunak bila dipanaskan, sehingga jenis polimer ini dapat dibentuk ulang. Sedangkan polimer thermosetting setelah dipanaskan tidak dapat dibentuk ulang. Ketahanan polimer terhadap panas ini membuatnya dapat digunakan pada berbagai aplikasi antara lain untuk insulasi listrik, insulasi panas, penyimpanan bahan kimia dan sebagainya.
3. Branching (percabangan)
Semakin banyak cabang pada rantai polimer maka densitasnya akan semakin kecil. Hal ini akan membuat titik leleh polimer berkurang dan elastisitasnya bertambah karena gaya ikatan intermolekularnya semakin lemah.
4. Tacticity (taktisitas)
Taktisitas menggambarkan susunan isomerik gugus fungsional dari rantai karbon. Ada tiga jenis taktisitas yaitu isotaktik dimana gugus-gugus subtituennya terletak pada satu sisi yang sama, sindiotaktik dimana gugus-gugus subtituennya lebih teratur, dan ataktik dimana gugus-gugus subtituennya terletak pada sisi yang acak.
Beberapa keuntungan plastik (Ilham, 2007) adalah :
1. Massa jenis rendah (0,9 - 2,2 [g/cm3])
2. Tahan terhadap arus listrik dan panas, memiliki sedikit elektron bebas untuk mengalirkan panas dan arus listrik.
3. Tahan terhadap korosi kimia karena tidak terionisasi untuk membentuk elektron kimia. Pada umumnya tahan terhadap larutan kimia, dan logam juga sangat sukar untuk larut.
4. Mempunyai permukaan dan penampakan yang sangat baik dan mudah diwarnai.
Kerugian plastik (Ilham, 2007) adalah :
1. Modulus elastisnya rendah.
2. Mudah mulur (Creep) pada suhu kamar.
3. Maksimum temperatur nominalnya rendah.
4. Mudah patah pada sudut bagian yang tajam.
Secara umum Thermoplastic tidak tahan terhadap temperatur tinggi, kecuali Teflon. Bahan-bahan Thermoplastic akan meleleh bila dipanaskan pada temperatur tinggi, sedangkan pada bahan-bahan Thermosetting tidak terbakar tapi akan terpisah dan hancur.
Temperatur pelelehan dan pemisahan untuk bahan-bahan plastik jauh lebih rendah dibandingkan baja. Plastik akan memanjang (Creep) pada temperatur kamar. Kecenderungan bahan plastik akan mulur bila temperaturnya naik menunjukkan bahwa perubahan kecil saja pada temperatur dapat mempengaruhi sifat-sifat fisik bahan. Pengaruh temperatur dan laju regangan pada tegangan tarik harus dievaluasi dengan baik bila plastik akan digunakan. Pertama terjadi deformasi elastis seketika, diikuti deformasi melar, setelah waktu tertentu apabila tegangan hilang dari benda uji sebagian akan kembali ke bentuk semula setelah waktu yang lama. Cara deformasi seperti ini banyak ditemukan, suatu garis pendekatan yang sering
dipakai untuk berbagai bahan mempergunakan empat model unsur kombinasi pegas dan peredam.